Bukan kewajiban saya sebenarnya menuliskan ini. Bisa dibilang ini aksi kurang kerjaan. Disebut cari perhatian pun boleh-boleh saja. Paling tidak, untuk sebuah kepentingan di salah satu komunitas, saya mencoba untuk ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.
Cerpen berjudul Dari Gunuang Omeh, ke Jalan Lain di Moskow, Menuju Hukuman Mati di Kediri dari website https://www.ngodopcom/2021/08/dari-gunuang-omeh-ke-jalan-lain-di.html?m=1 sejatinya merupakan cerita berbasis kisah nyata seorang Tan Malaka. Beliau pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang kisah hidupnya bagi saya cukup tragis. Bagaimana tidak, di akhir hidupnya malah beliau menjadi pelarians setelah dicap sebagai pengkhianat.
Mengolah cerita pendek semacam ini tentu saja punya tantangan tersendiri. Selain harus cermat dalam memilih sumber literatur, mengolah alur cerita sehingga menjadi menarik juga menjadi pekerjaan tersendiri yang membutuhkan kecakapan luar biasa. Tidak semua orang paham dan suka akan sejarah tanah nusantara yang sarat akan drama orang dewasa sehingga terkadang menutupi kebenaran.
Salah satu proses yang bagi saya cukup berat dalam pembuatan cerpen ini adalah riset. Menurut situs https://kbbi.kemdikbud.go.id/, yang dimaksud riset adalah penyelidikan (penelitian) suatu masalah secara bersistem, kritis, dan ilmiah untuk meningkatkan pengetahuan dan pengertian, mendapatkan fakta yang baru, atau melakukan penafsiran yang lebih baik. Tentu dalam kasus cerpen ini, menelusur sejarah Tan Malaka tidak cukup dengan sekali baca cerita masa lalu beliau.
Setelah memperoleh banyak data dengan riset yang presisi, menurut saya pribadi harus ada jeda sejenak untuk sang penulis. Semua perolehan data itu harus diolah bersamaan oleh logika dan perasaan. Proses inilah yang menuntut penulis untuk diam dan sebisa mungkin menjauh dari keramaian yang berpotensi menganggunya.
Diam disini bukan tidak bergerak sama sekali. Maksudnya adalah usaha memahami keadaan diri dalam suasana yang tenang agar mampu memahami kenyataan yang tersirat maupun tersurat secara maksimal. Dengan istilah yang lebih khusus, inilah proses yang disebut meditasi. Setyo Hajar Dewantoro (2018 : 305) berpendapat bahwa lebih jauh, meditasi bertujuan agar setiap pribadi bisa menghasilkan mahakarya sesuai kemampuannya, sehingga terealisasi rancangan agung dari Sang Sumber Kehidupan.
Salah satu bentuk meditasi yang saya amati dari salah satu penulis adalah dengan cara menahan karyanya untuk tidak langung diterbitkan atau diumumkan ke khalayak publik. Tujuannya agar bisa dilakukkan koreksi dan pengecekan terlebih dahulu. Dalam sebuah riwayat beliau pernah berkata,” Kalau dari kelas-kelas menulis memang disarankan untuk mengendapkan karya itu beberapa waktu”.
Yah, memang untuk membuat suatu mahakarya perlu yang namanya kualitas. Tentu saja percuma jika material yang diperlukan sudah sesuai standar, tapi sang kreator tidak sabar mengolahnya. Kata seorang yang arif billah,” Njero ketoto, njobo luwih ketoto (yang di dalam tertata, yang tampak diluar lebih tertata)”.
Malang, 27 September 2021

Mantap. Makasih kak ilmunya!
SukaSuka