Seorang konco kenthel (teman akrab) kemarin berkata,” Awakmu minimal 4 dino kudu muleh. Ojok kluyuran wae (Kamu minimal 4 hari harus pulang. Jangan keluyuran saja). Mendengar itu, cuman bisa geleng-geleng kepala. Apa daya, perintah sudah terlontar.

pasukan lali omah (pasukan lupa rumah)
Memang, proses hidup yang seperti gelandangan ini telah ku jalani lebih dari 8 tahun. Cukup menyulitkan memang, namun keluarga inti di rumah juga tak bisa ditinggal begitu saja. Sepertinya, sudah saatnya sedikit mengubah perjalanan hidupku.
Mau bagaimana lagi. Kalau di rumah serasa malas. Rekan diskusi untuk hal-hal yang “khusus” tak ada. Merokok pun tak bisa. Belum lagi kalau sudah kena kasur, rasanya begitu lengket dan berat bergerak.

Maka, satu-satunya jalan adalah dengan keluar rumah. Mencari inspirasi untuk menulis begitu mudah. Ditemani rekan sejawat sambil merokok, rasanya begitu nikmat.
Kini, saatnya memasuki tahap yang baru. Semakin banyak lingkungan sosial dan tanggung jawab yang melekat, jangan sampai meninggalkan keluarga. Kalau hanya dipikir terlihat mudah, tapi dalam kenyataan hidup semua bisa berbeda telak.
Yah, mau bagaimana lagi ? Inilah resiko hidup bersosial. Badan memang hanya satu, tapi pikiran bisa bercabang kemana-kemana. Ibarat kata, badannya boleh disini tapi jiwanya malah melayang kemana-mana.
Mungkin dari sini juga, akan ku pahami makna hijrah yang sejati. Seperti yang dialami Rasulullah SAW, bertahap dalam menerima wahyu dan perintah. Tidak langsung dijatuhi setumpuk kitab dan instruksi yang membingungkan.
Malang, 21 Oktober 2019
Rahayu Sagung Dumadi 🙏🙏🙏

ngukur aspal terus mas syai inih…
SukaSuka
Mumpung belum ada yg nggandoli 😂
SukaSuka